Abu rokoknya menerpa mukaku. Seringkali aku menarik nafas dalam-dalam dan ku hembuskan udara dari mulutku sehemat-hemat mungkin agar tak terhisap asap rokoknya. Udara malam ini cukup dingin bahkan ia membuatku tiga kali bolak-balik ke toilet. Aku menunggu kesempatan ini, ketika Rio, kakak laki-lakiku yang tergila-gila terhadap rokok jenis apa pun bercerita padaku tentang arti hidup tepatnya arti hidup bagi dirinya. Diam-diam aku sangat mengaguminya. Umurnya yang sudah 35 tahun membuatnya banyak memberikanku nasihat beserta motivasi. Semakin tua semakin matang. Mungkin.

“Jangan sekali-kali kau berteman dengan wanita yang suka pergi malam-malam”, suranya memecah lamunanku dan membuat aku terhisap asap rokoknya sekali lagi. “Apa hubungannya denganku?” tanyaku heran. “Ya, Lulu itu maksudku, ia suka pergi malam-malam, temanmu kan?”, puuuus…..asap rokok menutupi mukanya. “Iya sahabat”, jawabku dengan tangkas. “Huh, apa syarat-syaratnya biar dua manusia seperti Kau dan Lulu bisa bersahabat?”, lagi-lagi Kakakku bertanya. “Hanya satu syaratnya yaitu hati, hati kak!”. “Persahabatan itu perlu hati yang tulus”, ujarku. Kakakku sepertinya tidak setuju. Ia berkata padaku sambil mencibir “Hati itu bisa menipu, Dina”. Aku agak heran mengapa malam ini kakak kelihatan berbeda. Tak sependapat denganku.

Lulu, sejak kapan kakaku perhatian dengan temanku padahal setiap hari yang kami perbincangkan adalah tentang kami bertiga kisah tentang Aku, Kakak, dan Ibu. Walaupun cerita kami lebih di dominasi tentang cara kakak memandang dunia. Pecandu rokok itu selalu mendengarkan keluh kesahku namun hari ini berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Perbincangan kami di bawah bintang kini menjadi ajang curhat kakakku. Aneh, seorang Rio bercerita tentang cinta. “Cinta itu lebih candu dari rokok, cinta itu lebih beracun, mematikan”, ujarnya. Aku mendongak menatap bintang-bintang, pria ini sedang gila. “yang pasti cinta itu tidak murahan seperti rokokmu”, murah ku tekankan sekali lagi. Rio tertawa menurutnya bukan cinta yang murah tetapi wanita itu murah. “Huh pendapat ahli dari mana?”Aku naik pitam. Kali ini pembicaraan Ku dan Kak Rio mulai ngelantur ke arah dunia yang sama sekali tak mereka kenal yaitu cinta.

Aku mencerna bulat-bulat dan menarik kesimpulan dari wajah kakakku. Dari cara dia mengucap kata cinta dan dari tiupan asap rokoknya sungguh aneh hari ini. Cinta bisa buat penyakit. Tidak ada pekerjaan lain, ia kini sinting, Kak Rio sering pergi malam. Dia berdalih saat malam lebih banyak cinta. Cinta itu bisa hinggap di puntung-puntung rokok. “Sinting”, benar-benar kakakku. Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Aku tahu Kakakku merupakan lelaki yang sopan terhadap wanita. Hanya itu yang aku tahu.

Setiap malam sehabis mendengar cerita dan curhat Kakakku, biasanya aku menelpon Lulu atau sebaliknya. Sepertinya semua orang di sekelilingku terserang virus cinta. Lulu yang biasanya pendiam kini tidak berhenti-henti membicarakan sosok laki-laki yang mengajaknya berkenalan saat malam hari ketika ia pulang dari tempat kerjanya. Aku hanya bisa diam, tahu apa aku tentang cinta. Yang aku tahu cinta itu seperti rokok, saat kita isap dan ia masih bertengger di mulut kita terasa nikmat namun saat rokok habis, cinta hanya tinggal bau yang melekat pada bibir dan hilang lambat laun.

Terserah, itulah defenisi tentang cinta menurutku setidaknya aku dan Kak Rio sepakat tentang defenisi itu. terserah dengan Lulu terserah dengan siapa saja. Kini bau badan Kak Rio campur aduk bau rokok, bau cinta, dan bau minyak wangi bujang tua yang tersengat cinta. Mistis. Aku tidak tahu wanita yang memiliki rupa seperti apa yang bisa membuat kakakku jatuh cinta. Wanita pemilik pabrik rokok, mungkin. Pikirku sambil senyum-senyum sendiri.

“Kriiiiiiiiing” telepon rumah berdering, ternyata Lulu menelpon. “Di mana Lu?”, “Biasa di tempat kerja”, uhuk…uhuk Lulu batuk. “Kamu sakit”, ujarku. “Enggak, kok, cuma asap rokok”, Lulu batuk lagi. Lulu pernah bercerita padaku bahwa ia paling benci dengan rokok tapi kenapa ia rela bertelepon dikerubungan asap rokok. Mungkin karena frustasi atau stress ia kini menjadi pecandu rokok. Ah tak mungkin.

Kakakku pulang sambil senyum-senyum, sudah tiga hari ia absen curhat padaku. Tidak biasanya. Mungkin karena cinta. Cinta bisa buat lupa. “Kau masih berteman dengan Lulu?” pertanyaan yang mengejutkan bagiku. “Iya, kak, kenapa?”, jawabku. “Lulu itu wanita yang, ah, kau tahu sendirikan? Pulang malam. “Apa bedanya dengan kakak, pulang malam juga kan, kalau Lulu itu cari kerja. Kak, halal” tegasku. Kak Rio mencibir “Tahu apa kau tentang Lulu dan Halal. Hah”. Aku terdiam, tidak bisa berkata apa-apa lagi. “Lulu, Halal, Kakak?”. Tahu apa Kakak tentang Lulu, aku yang lebih tahu.

Aku menelpom Lulu penasaran apakah aku tahu semuanya tentang Lulu. “Halo, Lulu” gundukan pertanyaan menghujam otakku bertubi-tubi “Ia, ada apa?” sambil batuk Lulu menjawab. “Lu, kamu sakit?” tanyaku basa-basi campur penasaran. “Aku mau cerita Din”, Tanpa menunggu jawabanku Lulu mulai bercerita. “Aku sudah lama berpacaran dan sekarang aku hamil”. Aku terbelalak tak percaya “Ah, Lu, kamu bercanda kan?”. “Sumpah”, Lulu meyakinkan. Aku sangat mencintai pria itu. aku rela mengorbankan apa saja yang aku miliki. Kini cinta yang aku cari sudah aku temukan, di antara kepulan asap rokok dan puntung rokok. Kamu tidak perlu repot-repot mencari informasi tentang siapa laki-laki itu. “Siapa, Lu?”, aku penasaran. Laki-laki itu adalah Rio Kakakmu. Otakku memberi sinyal tak percaya namun hati lebih tajam. Firasat kini menjadi jawabannya. “Braak” , telepon itu kubanting. Aku berlari sambil menangis ke kamar Kak Rio. Nafasku tinggal setengah. Ku buka pintunya, tanpa permisi. Kak Rio sontak terkejut. “Kak, mau tau syaratnya untuk jadi sahabat, hati sudah tidak ada, Kau tahu yang ada adalah sahabatku harus tidur dulu dengan Kakak”. Kak Rio hanya diam. “Benar anggapanku tentang cinta. Cinta itu racun layaknya rokok penuh dengan racun. Aku tak percaya lagi dengan siapapun sekalipun pemilik pabrik rokok mendakwakan rokok itu bukan cinta.