Abu rokoknya menerpa mukaku. Seringkali aku menarik nafas dalam-dalam dan ku hembuskan udara dari mulutku sehemat-hemat mungkin agar tak terhisap asap rokoknya. Udara malam ini cukup dingin bahkan ia membuatku tiga kali bolak-balik ke toilet. Aku menunggu kesempatan ini, ketika
“Jangan sekali-kali kau berteman dengan wanita yang suka pergi malam-malam”, suranya memecah lamunanku dan membuat aku terhisap asap rokoknya sekali lagi. “Apa hubungannya denganku?” tanyaku heran. “Ya, Lulu itu maksudku, ia suka pergi malam-malam, temanmu
Lulu, sejak kapan kakaku perhatian dengan temanku padahal setiap hari yang kami perbincangkan adalah tentang kami bertiga kisah tentang Aku, Kakak, dan Ibu. Walaupun cerita kami lebih di dominasi tentang cara kakak memandang dunia. Pecandu rokok itu selalu mendengarkan keluh kesahku namun hari ini berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Perbincangan kami di bawah bintang kini menjadi ajang curhat kakakku. Aneh, seorang
Aku mencerna bulat-bulat dan menarik kesimpulan dari wajah kakakku. Dari cara dia mengucap kata cinta dan dari tiupan asap rokoknya sungguh aneh hari ini. Cinta bisa buat penyakit. Tidak ada pekerjaan lain, ia kini sinting, Kak Rio sering pergi malam. Dia berdalih saat malam lebih banyak cinta. Cinta itu bisa hinggap di puntung-puntung rokok. “Sinting”, benar-benar kakakku. Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Aku tahu Kakakku merupakan lelaki yang sopan terhadap wanita. Hanya itu yang aku tahu.
Setiap malam sehabis mendengar cerita dan curhat Kakakku, biasanya aku menelpon Lulu atau sebaliknya. Sepertinya semua orang di sekelilingku terserang virus cinta. Lulu yang biasanya pendiam kini tidak berhenti-henti membicarakan sosok laki-laki yang mengajaknya berkenalan saat malam hari ketika ia pulang dari tempat kerjanya. Aku hanya bisa diam, tahu apa aku tentang cinta. Yang aku tahu cinta itu seperti rokok, saat kita isap dan ia masih bertengger di mulut kita terasa nikmat namun saat rokok habis, cinta hanya tinggal bau yang melekat pada bibir dan hilang lambat laun.
Terserah, itulah defenisi tentang cinta menurutku setidaknya aku dan Kak Rio sepakat tentang defenisi itu. terserah dengan Lulu terserah dengan siapa saja. Kini bau badan Kak Rio campur aduk bau rokok, bau cinta, dan bau minyak wangi bujang tua yang tersengat cinta. Mistis. Aku tidak tahu wanita yang memiliki rupa seperti apa yang bisa membuat kakakku jatuh cinta. Wanita pemilik pabrik rokok, mungkin. Pikirku sambil senyum-senyum sendiri.
“Kriiiiiiiiing” telepon rumah berdering, ternyata Lulu menelpon. “Di mana Lu?”, “Biasa di tempat kerja”, uhuk…uhuk Lulu batuk. “Kamu sakit”, ujarku. “Enggak, kok, cuma asap rokok”, Lulu batuk lagi. Lulu pernah bercerita padaku bahwa ia paling benci dengan rokok tapi kenapa ia rela bertelepon dikerubungan asap rokok. Mungkin karena frustasi atau stress ia kini menjadi pecandu rokok. Ah tak mungkin.
Kakakku pulang sambil senyum-senyum, sudah tiga hari ia absen curhat padaku. Tidak biasanya. Mungkin karena cinta. Cinta bisa buat lupa. “Kau masih berteman dengan Lulu?” pertanyaan yang mengejutkan bagiku. “Iya, kak, kenapa?”, jawabku. “Lulu itu wanita yang, ah, kau tahu sendirikan? Pulang malam. “Apa bedanya dengan kakak, pulang malam juga
Aku menelpom Lulu penasaran apakah aku tahu semuanya tentang Lulu. “Halo, Lulu” gundukan pertanyaan menghujam otakku bertubi-tubi “Ia, ada apa?” sambil batuk Lulu menjawab. “Lu, kamu sakit?” tanyaku basa-basi campur penasaran. “Aku mau cerita Din”, Tanpa menunggu jawabanku Lulu mulai bercerita. “Aku sudah lama berpacaran dan sekarang aku hamil”. Aku terbelalak tak percaya “Ah, Lu, kamu bercanda

3 komentar:
keren....
q suka awal n endingny....
memang "Sinting"
hehehhe
tetep semangat tuk berkarya,,,
ciptakan terus coretan2 lainnya
thank ya reni,,,,hehehe,,,,semangat terus berkarya
Reni,,,,,,,,lah jarang ngeblog kau e???????????????????
Posting Komentar