Syaiful begitulah namanya, sederhana bagiku, dan mudah diingat. Saat aku baru membuka mata dari tidur lelapku, kira-kira jam enam pagi. Ia selalu melewati rumahku dengan sepeda tua warisan ayahnya. Ia berhenti tepat di depan jendela kamarku tetapi diselilngi oleh pagar beton rumah kami yang sangat kokoh. Ia membunyikan bel sepedanya “Kring…kring” sambil melemparkan gulungan kertas yang lumayan tebal. Gulungan kertas hitam putih yang selalu ada di rumahku tetapi bisa dihitung dengan jari kapan saja aku menggunakan. Kertas itu hanya kugunakan dan kupakai jika ada tugas dari guru untuk membuat kliping atau untuk alas sholat idul fitri di lapangan masjid. Ya, gulungan kertas yang aku maksud itu adalah koran. Koran yang ku anggap tidak berguna dan selalu aku anggap sepele ternyata bisa menghasilkan pundi-pundi uang buat Syaiful dan orang tuanya.

Aku kembali teringat kenanganku bersama Syaiful dan teman-teman yang lain saat bersepeda mengelilingi komplek rumah kami. Kami merasa bahagia, jika ada perlombaan tujuh belas agustus di komplek perumahan kami, apalagi lomba panjat pinang. Biasanya hadiah utama panjat pinang di komplek kami yaitu sepeda. Dulu sebelum aku memiliki sepeda Syaiful selalu setia memboncengku dan aku pun selalu bernyanyi bermacam-macam lagu jika diboncengnya. Keinginanku untuk memiliki sepeda begitu kuat, aku malu untuk minta dibelikan ibu sepeda karena baru saja ibu membelikan aku sepatu dan tas baru. Aku bukan anak yang selalu memaksakan keinginan kepada orang tua. Aku selalu berusaha menabung untuk membeli benda yang aku inginkan walaupun terkadang aku masih meminta uang tambahan dari ibu.

Ternyata pada saat 17 agustus, teman-temanku yang dikepalai oleh Syaiful mengikuti lomba panjat pinang dengan tujuan jika menang sepeda yang ada di puncak pohon itu menjadi milikku. Aku sangat terharu dengan teman-temanku. Aku menunggu di bawah dengan perasaan harap-harap cemas. Setelah beberapa kali jatuh, terpeleset, dan berlumuran oli, akhirnya sepeda itu menjadi milikku dan Syaiful dengan gagahnya mengibarkan bendera merah putih di atas pohon pinang itu.. Aku mengucapkan terimakasih kepada Syaiful dan teman-teman yang lain aku sangat terharu atas pengorbanan mereka.

Sekarang aku hanya bisa memandangi syaiful dari balik jendela. Setelah kecelakaan itu aku dilarang ibuku untuk menemuinya apalagi bermain dengannya. Saat bermain-main di pinggir jalan bersama Syaiful karena lengah saat menyebrang, tiba-tiba dari depan ada mobil kijang berwarna hijau melaju dengan cepat dan menabrakku. Aku langsung pingsan yang menabrakku melarikan diri, Syaiful dengan cepat membawaku ke rumah sakit. Ia menelpon ibuku. Setelah satu jam, Ibuku datang, belum sempat ia mengucapkan terimakasih, tamparan mendarat di muka Syaiful. Ibuku menyalahkan Syaiful karena semenjak ia memberikan sepeda kepadaku, aku selalu bermain di jalan-jalan sampai sore hari. Syaiful menangis tersedu-sedu, ia meminta maaf. Akan tetapi, ibuku sangat marah.

Aku hanya bisa terdiam karena kakiku sakit sekali. Kenudian datanglah dokter, ia berbincang sejenak dengan ibuku tetapi obrolannya sangat serius, aku hanya dapat melihat komat-kamit dan gerak bibir ibuku dan dokter. Ibuku menatapku dengan air mata, ia mencoba menenangkanku. Ia mencoba menjelaskan hal ini dengan lemah lembut. Kaki mu harus diamputasi kedua-duanya. Aku hanya dapat terdiam, kulihat Syaiful menangis dari luar kamar. Dari sorot matanya ia mengucapkan maaf. Akan tetapi, akulah yang seharusnya meminta maaf. Seandainya aku tidak lengah. Hal ini tidak akan terjadi. Ibuku keluar dari kamar, mataku mengikuti ibuku dan dari kaca aku melihat Ibuku menunjuk-nunjuk Syaiful dan menamparnya untuk yang kedua kali. Syaiful berlari pulang meninggalkan aku mungkin ia tidak tahan lagi. Aku menangis melihatnya. Maafkan aku Syaiful.

Kini kakiku telah diamputasi, sudah satu bulan ini aku tidak bertemu dengan dengan Syaiful. Teman-temanku yang lain menjenguk ku. Sikap ibuku sangat berbeda, ia menyambut hangat teman smpku kecuali Syaiful. Belum sempat menginjakkan di rumah, ibu sudah mengusir Syaiful. Syaiful sempat meminta izin dan membujuk ibu agar bisa menjengukku. Akan tetapi, ibu tetap tidak mengizinkan Syaiful masuk. Dina bercerita kepadaku dengan serius. Ternyata Syaiful menitipkan surat kepada Dina karena ia sudah menduga akan terjadi hal seperti ini. Surat dari Syaiful aku baca dengan seksama. Isi suratnya penuh dengan kata-kata maaf.

Daerah komplek kami yang begitu tenang kini berubah menjadi ramai, hiruk pikuk, dan panas. “Kebakaran…kebakaran. Teriak warga”. “Bu, cepat keluar ada kebakaran”. Ibu mendorong kursi rodaku. Kami keluar rumah. Api yang sangat besar itu menyala-nyala mengeluarkan asap hitam. Rumahnya sangat aku kenal. Itu adalah runah Syaiful. Kini api sudah merambat ke rumah penduduk yang ada di sekitar. Aku menatap sosok sahabat sejatiku, wajahnya hitam. Ada luka bakar sedikit di lengannya. Syaiful menangis, Ia berusaha menyelamatkan ayah dan ibunya yang sedang tertidur lelap. Akan tetapi, warga melarang karena api sudah semakin besar. Setelah datang mobil kebakaran yang berjumlah sekitar 12 unit. Api dapat dipadamkan kira-kira dua jam lamanya. Kemudian warga masuk dan membawa keluar mayat ibu dan ayah Syaiful. Syaiful menagis rumahnya sudah habis terbakar, ibu dan ayahnya sudah tiada. Ia sangat sedih. Aku ingin menghibur Syaiful menenangkan hatinya tetapi ibu cepat mendorong kursi rodaku kembali kerumah. Aku menangis, bagaimana mingkin seorang anak yang baru berusia 12 tahun harus hidup sendirian di muka bumi ini. Aku mencari berita tentang Syaiful dari Dina. Kini Syaiful tinggal di masjid dekat rumah. Ia bertugas menjadi tukang bersih di masjid dan tukang menjaga sandal jika hari jumat tiba. Syaiful tidak minta digaji, ia sangat senang bisa tinggal di masjid ini dan sekalian menambah pahala. Syaiful menganggap kebakaran ini menjadi peringatan baginya karena ia sangat jarang beribadah. Mungkin dengan adanya musibah ini, hatinya lebih tergerak untuk melakukan ibadah. Sebagai hasil tambahan, Syaiful bekerja menjual koran di pagi hari dan bekerja di rumah makan siang harinya. Waktu malam adalah hal yang sangat istimewa bagi Syaiful karena setelah sholat Isya Syaiful bisa beristirahat di masjid. Syaiful selalu berdoa agar ia bisa bertemu dengan aku. Kami adalah sahabat yang terpisah. Aku merasa kekosongan di dalam hati. Aku membujuk ibuku agar memaafkan Syaiful. Akan tetapi, ibu hanya diam saja. Aku membujuk dan memohon dengan ibu tetapi ibu hanya diam.

Aku hanya bisa memandangi Syaiful dri jendela. Syaiful juga hanya bisa memandangiku dari jauh. Aku mencoba untuk berkomunukasi dengan Syaiful tetapi tidak bisa. Gerak-gerikku selalu diawasi oleh ibu. Jika aku mencoba untuk berkomunikasi, aku takut Syaifullah yang menjadi sasaran amarah ibuku.

Aku mencari akal. Bagaimana caranya agar aku bisa berkomunikasi dengan Syaiful. Bisa berbagi tawa dan duka dengannya. Seperti dulu, saat kami berdua mendendangkan lagu kesayangan kami. Aku menjadi vokalis dadakan dan Syaiful dengan setia mendengarkan laguku yang sumbang dengan kepala digeleng-gelengkan sedikit. Masa yang sangat indah.

Bermalam-malam aku memikirkan cara agar bisa kembali seperti semula. Bersahabat dengan temanku. Tiba-tiba aku mendapatkan ide. Ide yang mudah untuk dilaksanakan. Aku akan menunggu di luar saat Syaiful mengantarkan koran pagi-pagi dengan alasan ingin menghirup udara segar di luar rumah. Mungkin dengan alasan ini ibu akan percaya dan megizinkanku.

Pagi hari saat udara masih dingin, aku keluar rumah dengan kursi roda. Untungnya ibu mengizinkan aku, dengan syarat aku tidak boleh terlalu jauh. Tiba-tiba “Kring…kring” sepeda tua itu datang. Syaiful denga cepat memarkirkan sepedanya dan terdiam menatapku. Begitu juga aku, aku hanya memandangi Syaiful dari dekat dan air mataku mulai meleleh di pipi.

Kemudian tanpa berkata-kata Syaiful pergi. Ia melemparkan koran ke dalam pagar. Tanpa sempat berkata-kata ia pergi dengan sepeda tua warisan ayahnya. Kupandangi badannya sampai hilang di perempatan jalan. Aku sangat sedih dan bertanya dalam hati. “Ada apa ini, mengapa Syaiful menjauh”. Aku berniat untuk menunggunya pagi besok.

Keesokan paginya aku menunggu Syaiful di depan rumah. Tidak lama sepedanya berhenti tepat di depanku. Seperti biasa ia melemparkan koran dan memberikanku kertas kemudian berlalu meninggalkanku. Ia meninggalkan sepucuk surat untukku.

Kepada Rina

Sahabatku yang hampir hilang

Aku adalah orang penakut yang tak bisa menjagamu. Akulah yang membuatmu menjadi seperti ini. Akulah yang membuat mu pindah sekolah dari sekolah yang indah dan banyak teman-teman sebaya yang normal ke sekolah anak cacat. Akulah yang membuatmu tidak bisa bersepeda lagi. Maafkan aku rina.

Syaiful,

Yang bersalah.

Aku menitikkan air mata dan menulis surat balasan untuk Syaiful. Pagi hari setelah Syaiful mengantarkan korannya aku memberinya surat balasan.

Kepada Syaiful,

Sang juara panjat pinang…

Walaupun aku cacat. Aku tidak bisa mengayuh sepeda seprti anak-anak lain. Akan tetapi, aku bahagia memiliki sahabat seperti kau. Bayangkan, aku belajar ketegaran dari dirimu. Tegar terhadap musibah yang kau hadapi. Aku menemukan sesuatu yang beda pada dirimu , sahabat yang tidak bisa digantikan oleh siapapun.

Rina,

Pelanggan koran

Nb: besok bawakan aku bubur ayam ya!

Syaiful membaca surat itu dengan tersenyum. Ia merasa lega. Usai magrib aku dipanggil ibu. Ternyata Ibu mengetahui aku masih berhubungan dengan Syaiful. Ibu meminta agar Syaiful mampir ke rumahku sejenak pagi besok.

Aku memberitahukan Syaiful bahwa ia dipanggil ibu untuk masuk. Aku meyakinkan Syaiful tidak akan terjadi apa-apa. Akhirnya, Syaiful masuk dengan sedikit ragu. Ibu langsung menyuruh Syaiful duduk. Tanpa di duga, ternyata Ibu mengizinkan Syaiful untuk tinggal di rumah karena aku anak tunggal dan ibu sangat bersimpati kepada Syaiful. Aku hanya hidup berdua dengan ibuku. Aku sempat heran mengapa ibu mengangkat Syaiful sebagai anaknya. Kini aku mempunyai seorang kakak yang selalu bersedia mengajak aku jalan-jalan dengan kursi rodaku. Jika aku kesulitan maka Syaifulah yang membantu dan selalu membuatkan aku bubur ayam untuk sarapan di pagi hari karena ia tahu bahwa aku sangat menyukai masakan ini. Kak Ipul begitulah panggilan baruku untuknya. Kini ia kembali bersekolah untuk mencari ilmu dan ia berjanji akan menjadi dokter agar bisa merawatku lebih baik.