Pagi yang dingin membuat aku sedikit malas untuk bangun. Akan tetapi, aroma masakan ibu yang mengundangku untuk cepat-cepat melipat selimut. Dengan muka acak-acakan, aku keluar dari kamar. Ibu menyambutku dengan senyum. Senyum bahagia karena telah berhasil membuat masakan yang baru di pelajarinya di kursus bersama tetangga yang dilaksanakan setiap sore. Nasi goreng ikan teri campur pete. Itulah menu special yang ditawarkan oleh Ibu untuk sarapan pagi ini. Aku tak sabar untuk mencicipinya. Ikan teri itu menggeliat minta digoda dan pete meloncat-loncat dari piring memanggilku. Sekarang nasi goreng itu berada di dekat hidungku. Langkah selanjutnya ku ambil sendok dan oh… suapan pertama kurasakan sensasi kombinasi antara ikan teri dan pete yang lezat. Aku makan dengan lahap, seperti tak pernah makan tiga bulan, belum sempat bernafas, sendok nasi itu terus menyempal ke mulutku. Ibu hanya tertawa melihatku. “Baru kali ini bukan kau merasakan masakan seorang koki bintang tujuh”, dengan bangga Ibu memuji dirinya sendiri. Aku terus melahap nasi goreng Ibu dan pura-pura tak mendengar apa yang ia katakan. Sebearnya nasi goreng ibu memang enak bahkan sangat enak tetapi aku tidak mau memuji secara berlebihan. Nanti Ibu jadi Ge-er .“Em, lumayan”, ujarku dengan sok cuek. Padahal di dalam hati, aku ingin sekali nambah satu piring lagi dan mengulang sensasi nasi goreng itu. Akan tetapi, sepertinya Ibu dapat membaca gelagatku. “Ah, Rini, tidak usah bohong, Ibu tahu kau sangat menyukainya kan”, sepertinya Ibu mengetahui kebohonganku. “Iya Bu, nasi gorengnya enak sekali, seperti di restoran”, ujarku sambil mengacungkan kedua jempol. “Bagaimana kalau nasi goreng ini aku namakan nasi goreng Peri (pete dan teri)”, usulku. “Boleh juga”, kemudian Ibu kembali ke dapur dan mengambil susu untukku. Aku sangat bangga mempunyai Ibu seperti ini. Ibu dan aku sangat menyayangi. Aku anak tunggal. Ayahku meninggal sakit kanker hati. Jadi, hanya kami berdua yang menghuni rumah sederhana ini. “Rini, ini susunya”, Ibu membawakan susu segelas besar dan bertuliskan Rini. “Makasih, Bu”. Aku langsung menyeruput susu itu. Enak sekali bukan karena susunya tetapi karena ibulah yang membuat susu ini dengan penuh cinta. “Bu, di dalam lemari itu ada dua buah gelas cantik sekali, warna ungu pula”. Aku menatap dalam-dalam cangkir itu , penuh dengan seni dan kenangan. Sepertinya, cangkir itu di buat dengan penuh cinta dan ditakdikan untuk cinta. Dengan mata berkaca-kaca ibu menceritakan kisah tentang gelas cinta itu. Dulu ketika lagi berpacaran. Ibu dan Ayah selalu pergi ke restoran untuk makan bakso. Kebetulan harga makanan di sana sangat murah. Sesuai dengan kantong pegawai pabrik kecap seperti ayah. Kebetulan jalan menuju ke restoran tersebut melewati toko barang bekas. Setiap melewati jalan itu, mata Ibu tidak bisa terlepas melihat cangkir ungu itu. Ibu sangat menginginkan cangkir itu. Ibu juga sadar, walaupun itu barang bekas tapi harganya pasti mahal. Ternyata ayah mengetahui bahwa ibu menyukai cangkir itu. Walhasil, seusai mendapatkan gaji dari jerih payah satu bulan. Ayah berani menanyakan harga cangkir itu. Ternyata harganya cukup mahal. Uang Ayah kurang. Ibu menyuruh ayah untuk melupakan cangkir itu. Enam bulan kemudian, akhirnya Ibu dan Ayah menikah. Ketika ulang tahun pernikahan pertama kami. Tanpa di duga, ternyata Ayah membelikan Ibu cangkir ungu itu. Betapa bahagianya Ibu. Tidak lama setelah dua tahun pernikahan, Ayah menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya karena penyakit kanker hati yang menggerogotinya. Cerita itupun usai, kutatap lekat-lekat wajah ibu. Mukanya basah oleh air mata. Air mata berkelok-kelok mengikuti alur mukanya yang berkerut dimakan usia. Aku pun memeluk ibu sambil memperhatikan cangkir cantik itu. Cangkir cantik yang penuh sejarah cinta. Cinta dua makhluk miskin harta tapi kaya hati.
Satu minggu ini adalah hari yang sangat menyenangkan karena hari ini libur. Libur sekolah berarti libur tugas, itulah keinginanku. Akan tetapi, itu tidak terjadi padaku. Justru libur ini mengharuskan aku untuk mengerjakan pr yang segunung. Aku diajarkan oleh ibu, ketika kita mendapatkan tugas ataupun amanah terhadap orang lain, maka kita harus mengerjakannya dengan hati yang ikhlas dan jangan dengan hati terpaksa.
Setelah memakai sepatu dan megambil kacamatanya. “Ibu pergi dulu ya, ke sekolah”. Ibuku adalah pegawai tata usaha di sd negeri dekat rumah. “Bereskan rumah ya, Rin”, pesan ibu sambil menutup pintu depan. “Beres, Bos!”. Ujarku. Setelah mengerjakan pr matematika. Aku langsung membersihkan rumah. Dari ruang tamu sampai dapur, aku mengepel lantai seperti mandi. Tubuhku jadi lembab. Setelah menyapu semua ruangan aku pun mengelap kaca dan perabotan yang penuh debu. Satu persatu bingkai foto ayah ku bersihkan dari debu-debu. Aku mengelap kaca lemari dengan kain pel kecil dan tak lupa air pel ku campur dengan wewangian bunga mawar dan aku pun membuka lemari untuk mengelap cangkir kesayangan Ibu beserta pajangan yang lain. Aku bekerja sambil menonton televisi. Tiba-tiba tanpa ku sadari. Prrrannggg, cangkir, itu pecah satu. Aku terdiam, tak dapat bergerak, cangkir ungu itu pecah, berantakan. Aku merasa bersalah dengan Ibu. Aku mencari cara untuk menyatukan pecahan cangkir itu. Aku mengambil lem dan mencoba melekatkannya dengan gemetar. Tapi pecahan cangkir itu terlalu kecil sehingga aku tidak bisa menyatukannya dan pasrah.
Sore hari, ibu pulang membawa makanan untuk makan malam. Aku membukakan pintu dengan ekspresi datar, takut, dan cemas. Aku takut artefak cinta ayah dan ibuku, tak dapat menjadi saksi ketegaran cinta mereka karena dirusak oleh aku yang ceroboh. Aku langsung mengambil makanan dari tangan Ibu. Sepertinya Ibu mengetahui gelagatku yang lain. Ibu mulai mengintrogasiku. “Kenapa kamu diam, tidak biasanya?”, Tanya Ibu menyelidiki. “Rini tidak diam, Bu”. “Ayo, jujur”, Ibu membujuk. “Tapi jangan marah ya?” ujarku dengan sedikit ragu. Dengan ragu, ku ceritakan kemalangan dan kebodohan diriku.
Tadi, setelah Ibu pergi. Aku membersihkan rumah. Tiba-tiba ketika aku mengelap cangkir itu ternyata licin dan pecah. Aku bercerita sambil menampung air mata. Kemudian aku memperhatikan ekspresi wajah Ibu. Ibu diam tetapi tidak marah. Ibu sangat sabar, aku tahu Ibu kecewa. Kulihat Ibu masuk ke kamar, diam, sunyi. Aku yang menangis. Bulir-bulir air mata ku jatuh mengalir sesak masuk ke hidung.
Malam ini panas. Padahal kipas angin, ada pada tombol satu, paling kencang anginnya. Suara lagu dari radio dengan bunyi kresek-kresek mengiringku untuk mencari cara memecahkan masalah agar Ibu tidak sedih lagi. Aku memandang langit-langit rumahku. Menyalahkan diri sendiri atas kesalahan yang telah ku perbuat sendiri tepatnya kecerobohanku. Aku mencari akal, bagaimana cara untuk mengganti cangkir yang telah aku pecahkan. Memang itu cuma barang biasa bagi orang yang tidak memiliki cerita tentang barang yang ia sayangi. Aku memandangi kesekeliling kamarku. Tiba-tiba aku melihat Ayam. Ayam jago besar yang sudah kupelihara sekitar satu tahun di kamarku. Ayam itu bertengger di meja belajarku. Ia kelihatan sehat dan segar bugar dengan warna cokelat. Iya, itu adalah celengan kesayanganku. Sebenarnya uang hasil celengan itu akan aku gunakan untuk membelikan Ibu kaca mata baru saat ia ulang tahun nanti. Aku sangat kasihan karena Ibu masih memakai kacamata lama padahal kaca mata itu tidak cocok lagi dengan mata Ibu yang semakin rabun. Ibu masih bertahan dengan kaca matanya yang tidak pas lagi. Apa boleh buat, demi cangkir kesayangan Ibu yang merupakan artefak cinta antara dua sejoli yang membuat aku terlahir sebagai anak yang paling bahagia di dunia ini.
Akan tetapi, aku sangat sayang dengan celengan ini, aku selalu mengisinya dengan sisa uang sekolahku. Isinya lebih banyak uang receh tetapi kalau sudah satu tahun, mungkin uang itu cukup banyak. Aku bertekad, aku naik ke atas tempat tidur. Aku angkat celengan itu tinggi-tinggi yang sebelumnya sudahku selimuti dengan kain agar suara yang terdengar tidak terlalu mengagetkan. Seketika, ayam jago itu mati, mati karena kuhempaskan dari atas kasur. Tanah liat itu hancur dalam hitungan detik. Bermunculanlah uang receh dan uang seribuan. Aku menyingkirkan uang terlebih dahulu lalu membersihkan bekas pecahan celengan ayam jago dengan seksama. Setelah membersihkan pecahan celengan tersebut, aku mulai menghitung uang. Akhirnya, setelah dihitung-hitung ternyata celengan ayam itu hanya Rp 120.000,00. aku berniat untuk pergi pagi-pagi untuk mencari cangkir ungu atau yang mirip dengan itu di tempat barang bekas tempat ibu membelinya dahulu.
Aku berkeliling mencari tempat itu namun, malangnya nasibku ternyata toko itu sudah tutup. Menurut pedagang lainnya. Pemilik toko lebih memilih pindah berjualan di luar kota. Aku bingung harus bagaimana. Seandainya saja masih ada orang yang berjualan cangkir yang mirip dengan cangkir itu. Aku terus berjalan menuju toko pecah belah. Menendang-nendang kaleng soft drink sambil kesal. Tiba-tiba, ada laki-laki berjaket hitam menyenggolku dari samping. Aku hampir jatuh karena badan laki-laki itu sangat besar. Akhirnya aku sampai di toko pecah belah tersebut. Setelah menanyakan kepada penjual, ternyata ia mempunyai cangkir yang lumayan mirip dengan cangkir yang aku pecahkan tetapi sedikit berbeda kalau cangkir yang aku pecahkan itu jumlahnya sepasang tetapi cangkir yang ini satu lusin. Setelah sepakat untuk membeli aku menuju kasir untuk membayar. Setelah meraba uang di tasku. Ternyata dompetku lenyap. Aku masih tak percaya, aku memeriksa ulang tasku. Memang benar tidak ada. Sepertinya dompet itu terjatuh. Aku berlari ke luar toko tidak melihat kana kiri dan seskali menabrak orang yang sedang berjalan. Menelusuri jalan yang aku lalui tadi. Hasilnya nihil, mungkin dompet itu bukan tercecer tapi aku kembali teringat dengan pria yang bertubuh besar. Apakah mungkin pria itu yang mencopet dompetku. Aku sangat kesal dan air mataku tidak bisa ditahan lagi. Aku menangis sambil berlari. Aku gagal, aku gagal mendapatkan artefak cinta Ibu dan Ayah. Aku tidak punya uang lagi. Celenganku sudah kubongkar, uangku sudah lenyap, dan aku tidak bisa pulang karena tidak ada ongkos. Aku bingung, tiba-tiba ada suara disampingku. “Neng cantik, kenapa menangis?”, ujarnya sambil menghentikan sepeda motornya. Wajah itu tak asing lagi di otakku. Oh, aku ingat itu adalah tukang sayur langganan Ibu. Ia sering berdagang sayur dengan sepeda motornya yang diberi gerobak di belakangnya. Aku pun menceritakan kejadian yang mengenaskan itu. Ternyata aku di antar pulang oleh Pak Arif.
Setelah sampai di rumah, aku mengucapkan terimakasih kepada Pak Arif. Aku pun masuk ke rumah dan berlari ke kamar untuk mencari akal bagaimana cara mencari gelas yang mirip dengan gelas yang sudah aku pecahkan. Gitar, tiba-tiba ide itu yang muncul di otakku. Kemudian aku berencana untuk menjual gitar yang aku beli dengan tabunganku juga. Besok gitar itu harus aku jual. Itulah tekad ku yang harus segera aku laksanakan.
Pagi-pagi aku menjual gitar itu di toko bekas. Setelah mengalami perdebatan. akhirnya gitar itu dihargai dengan Rp 75.000,00. Aku langsung menuju toko pecah belah yang aku datangi kemarin. Ternyata harga gelas itu Rp 80.000,00. tetapi kali ini nasib mujur berpihak padaku, pemilik toko itu memberikannku cangkir itu seharga Rp 75.000,00. aku sangat senang. Walaupun gitar yang aku sayangi sudah melayang.
Setelah sampai di rumah, aku langsung memberikan selusin cangkir itu untuk ibu, ibu sangat terharu setelah aku menceritakan pengalamanku untuk mendapatkan cangkir ini, “Terimakasih sayang, Ibu tidak marah kok, untung saja kamu tidak apa-apa, ibu tidak akan marah karena ibu sayang kamu!”, ujar Ibu sambil menyimpan cangkir itu. aku pun langsung ke kamar untuk beristirahat. Aku baru ingat besok ulang tahunku, aku sendiri hampir lupa.
Pagi-pagi aku sudah bangun, menyambut sang surya. Aku tak mendapatkan Ibuku di dapur. Ternyata Ibu sudah pergi pagi-pagi ke sd karena ada rapat untuk spp. Makanan sudah tersaji. Aku tertegun melihat gitar baru mengkilap di dekat meja telepon. Gitar itu bersender di meja sungguh elegan. Setelah ku baca surat yang menempel pada senar gitar tersebut. Aku terharu karena Ibu membelikan aku gitar baru sebagai hadiah ulang tahunku. “Aku sayang ibu”