Coretan-Coretan Revie

aku disini bermimpi, mencari-cari, dan berusaha menggapai,,,,,,bintang yang lekat di dinding langit....

SINTING

Abu rokoknya menerpa mukaku. Seringkali aku menarik nafas dalam-dalam dan ku hembuskan udara dari mulutku sehemat-hemat mungkin agar tak terhisap asap rokoknya. Udara malam ini cukup dingin bahkan ia membuatku tiga kali bolak-balik ke toilet. Aku menunggu kesempatan ini, ketika Rio, kakak laki-lakiku yang tergila-gila terhadap rokok jenis apa pun bercerita padaku tentang arti hidup tepatnya arti hidup bagi dirinya. Diam-diam aku sangat mengaguminya. Umurnya yang sudah 35 tahun membuatnya banyak memberikanku nasihat beserta motivasi. Semakin tua semakin matang. Mungkin.

“Jangan sekali-kali kau berteman dengan wanita yang suka pergi malam-malam”, suranya memecah lamunanku dan membuat aku terhisap asap rokoknya sekali lagi. “Apa hubungannya denganku?” tanyaku heran. “Ya, Lulu itu maksudku, ia suka pergi malam-malam, temanmu kan?”, puuuus…..asap rokok menutupi mukanya. “Iya sahabat”, jawabku dengan tangkas. “Huh, apa syarat-syaratnya biar dua manusia seperti Kau dan Lulu bisa bersahabat?”, lagi-lagi Kakakku bertanya. “Hanya satu syaratnya yaitu hati, hati kak!”. “Persahabatan itu perlu hati yang tulus”, ujarku. Kakakku sepertinya tidak setuju. Ia berkata padaku sambil mencibir “Hati itu bisa menipu, Dina”. Aku agak heran mengapa malam ini kakak kelihatan berbeda. Tak sependapat denganku.

Lulu, sejak kapan kakaku perhatian dengan temanku padahal setiap hari yang kami perbincangkan adalah tentang kami bertiga kisah tentang Aku, Kakak, dan Ibu. Walaupun cerita kami lebih di dominasi tentang cara kakak memandang dunia. Pecandu rokok itu selalu mendengarkan keluh kesahku namun hari ini berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Perbincangan kami di bawah bintang kini menjadi ajang curhat kakakku. Aneh, seorang Rio bercerita tentang cinta. “Cinta itu lebih candu dari rokok, cinta itu lebih beracun, mematikan”, ujarnya. Aku mendongak menatap bintang-bintang, pria ini sedang gila. “yang pasti cinta itu tidak murahan seperti rokokmu”, murah ku tekankan sekali lagi. Rio tertawa menurutnya bukan cinta yang murah tetapi wanita itu murah. “Huh pendapat ahli dari mana?”Aku naik pitam. Kali ini pembicaraan Ku dan Kak Rio mulai ngelantur ke arah dunia yang sama sekali tak mereka kenal yaitu cinta.

Aku mencerna bulat-bulat dan menarik kesimpulan dari wajah kakakku. Dari cara dia mengucap kata cinta dan dari tiupan asap rokoknya sungguh aneh hari ini. Cinta bisa buat penyakit. Tidak ada pekerjaan lain, ia kini sinting, Kak Rio sering pergi malam. Dia berdalih saat malam lebih banyak cinta. Cinta itu bisa hinggap di puntung-puntung rokok. “Sinting”, benar-benar kakakku. Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Aku tahu Kakakku merupakan lelaki yang sopan terhadap wanita. Hanya itu yang aku tahu.

Setiap malam sehabis mendengar cerita dan curhat Kakakku, biasanya aku menelpon Lulu atau sebaliknya. Sepertinya semua orang di sekelilingku terserang virus cinta. Lulu yang biasanya pendiam kini tidak berhenti-henti membicarakan sosok laki-laki yang mengajaknya berkenalan saat malam hari ketika ia pulang dari tempat kerjanya. Aku hanya bisa diam, tahu apa aku tentang cinta. Yang aku tahu cinta itu seperti rokok, saat kita isap dan ia masih bertengger di mulut kita terasa nikmat namun saat rokok habis, cinta hanya tinggal bau yang melekat pada bibir dan hilang lambat laun.

Terserah, itulah defenisi tentang cinta menurutku setidaknya aku dan Kak Rio sepakat tentang defenisi itu. terserah dengan Lulu terserah dengan siapa saja. Kini bau badan Kak Rio campur aduk bau rokok, bau cinta, dan bau minyak wangi bujang tua yang tersengat cinta. Mistis. Aku tidak tahu wanita yang memiliki rupa seperti apa yang bisa membuat kakakku jatuh cinta. Wanita pemilik pabrik rokok, mungkin. Pikirku sambil senyum-senyum sendiri.

“Kriiiiiiiiing” telepon rumah berdering, ternyata Lulu menelpon. “Di mana Lu?”, “Biasa di tempat kerja”, uhuk…uhuk Lulu batuk. “Kamu sakit”, ujarku. “Enggak, kok, cuma asap rokok”, Lulu batuk lagi. Lulu pernah bercerita padaku bahwa ia paling benci dengan rokok tapi kenapa ia rela bertelepon dikerubungan asap rokok. Mungkin karena frustasi atau stress ia kini menjadi pecandu rokok. Ah tak mungkin.

Kakakku pulang sambil senyum-senyum, sudah tiga hari ia absen curhat padaku. Tidak biasanya. Mungkin karena cinta. Cinta bisa buat lupa. “Kau masih berteman dengan Lulu?” pertanyaan yang mengejutkan bagiku. “Iya, kak, kenapa?”, jawabku. “Lulu itu wanita yang, ah, kau tahu sendirikan? Pulang malam. “Apa bedanya dengan kakak, pulang malam juga kan, kalau Lulu itu cari kerja. Kak, halal” tegasku. Kak Rio mencibir “Tahu apa kau tentang Lulu dan Halal. Hah”. Aku terdiam, tidak bisa berkata apa-apa lagi. “Lulu, Halal, Kakak?”. Tahu apa Kakak tentang Lulu, aku yang lebih tahu.

Aku menelpom Lulu penasaran apakah aku tahu semuanya tentang Lulu. “Halo, Lulu” gundukan pertanyaan menghujam otakku bertubi-tubi “Ia, ada apa?” sambil batuk Lulu menjawab. “Lu, kamu sakit?” tanyaku basa-basi campur penasaran. “Aku mau cerita Din”, Tanpa menunggu jawabanku Lulu mulai bercerita. “Aku sudah lama berpacaran dan sekarang aku hamil”. Aku terbelalak tak percaya “Ah, Lu, kamu bercanda kan?”. “Sumpah”, Lulu meyakinkan. Aku sangat mencintai pria itu. aku rela mengorbankan apa saja yang aku miliki. Kini cinta yang aku cari sudah aku temukan, di antara kepulan asap rokok dan puntung rokok. Kamu tidak perlu repot-repot mencari informasi tentang siapa laki-laki itu. “Siapa, Lu?”, aku penasaran. Laki-laki itu adalah Rio Kakakmu. Otakku memberi sinyal tak percaya namun hati lebih tajam. Firasat kini menjadi jawabannya. “Braak” , telepon itu kubanting. Aku berlari sambil menangis ke kamar Kak Rio. Nafasku tinggal setengah. Ku buka pintunya, tanpa permisi. Kak Rio sontak terkejut. “Kak, mau tau syaratnya untuk jadi sahabat, hati sudah tidak ada, Kau tahu yang ada adalah sahabatku harus tidur dulu dengan Kakak”. Kak Rio hanya diam. “Benar anggapanku tentang cinta. Cinta itu racun layaknya rokok penuh dengan racun. Aku tak percaya lagi dengan siapapun sekalipun pemilik pabrik rokok mendakwakan rokok itu bukan cinta.

Syaiful begitulah namanya, sederhana bagiku, dan mudah diingat. Saat aku baru membuka mata dari tidur lelapku, kira-kira jam enam pagi. Ia selalu melewati rumahku dengan sepeda tua warisan ayahnya. Ia berhenti tepat di depan jendela kamarku tetapi diselilngi oleh pagar beton rumah kami yang sangat kokoh. Ia membunyikan bel sepedanya “Kring…kring” sambil melemparkan gulungan kertas yang lumayan tebal. Gulungan kertas hitam putih yang selalu ada di rumahku tetapi bisa dihitung dengan jari kapan saja aku menggunakan. Kertas itu hanya kugunakan dan kupakai jika ada tugas dari guru untuk membuat kliping atau untuk alas sholat idul fitri di lapangan masjid. Ya, gulungan kertas yang aku maksud itu adalah koran. Koran yang ku anggap tidak berguna dan selalu aku anggap sepele ternyata bisa menghasilkan pundi-pundi uang buat Syaiful dan orang tuanya.

Aku kembali teringat kenanganku bersama Syaiful dan teman-teman yang lain saat bersepeda mengelilingi komplek rumah kami. Kami merasa bahagia, jika ada perlombaan tujuh belas agustus di komplek perumahan kami, apalagi lomba panjat pinang. Biasanya hadiah utama panjat pinang di komplek kami yaitu sepeda. Dulu sebelum aku memiliki sepeda Syaiful selalu setia memboncengku dan aku pun selalu bernyanyi bermacam-macam lagu jika diboncengnya. Keinginanku untuk memiliki sepeda begitu kuat, aku malu untuk minta dibelikan ibu sepeda karena baru saja ibu membelikan aku sepatu dan tas baru. Aku bukan anak yang selalu memaksakan keinginan kepada orang tua. Aku selalu berusaha menabung untuk membeli benda yang aku inginkan walaupun terkadang aku masih meminta uang tambahan dari ibu.

Ternyata pada saat 17 agustus, teman-temanku yang dikepalai oleh Syaiful mengikuti lomba panjat pinang dengan tujuan jika menang sepeda yang ada di puncak pohon itu menjadi milikku. Aku sangat terharu dengan teman-temanku. Aku menunggu di bawah dengan perasaan harap-harap cemas. Setelah beberapa kali jatuh, terpeleset, dan berlumuran oli, akhirnya sepeda itu menjadi milikku dan Syaiful dengan gagahnya mengibarkan bendera merah putih di atas pohon pinang itu.. Aku mengucapkan terimakasih kepada Syaiful dan teman-teman yang lain aku sangat terharu atas pengorbanan mereka.

Sekarang aku hanya bisa memandangi syaiful dari balik jendela. Setelah kecelakaan itu aku dilarang ibuku untuk menemuinya apalagi bermain dengannya. Saat bermain-main di pinggir jalan bersama Syaiful karena lengah saat menyebrang, tiba-tiba dari depan ada mobil kijang berwarna hijau melaju dengan cepat dan menabrakku. Aku langsung pingsan yang menabrakku melarikan diri, Syaiful dengan cepat membawaku ke rumah sakit. Ia menelpon ibuku. Setelah satu jam, Ibuku datang, belum sempat ia mengucapkan terimakasih, tamparan mendarat di muka Syaiful. Ibuku menyalahkan Syaiful karena semenjak ia memberikan sepeda kepadaku, aku selalu bermain di jalan-jalan sampai sore hari. Syaiful menangis tersedu-sedu, ia meminta maaf. Akan tetapi, ibuku sangat marah.

Aku hanya bisa terdiam karena kakiku sakit sekali. Kenudian datanglah dokter, ia berbincang sejenak dengan ibuku tetapi obrolannya sangat serius, aku hanya dapat melihat komat-kamit dan gerak bibir ibuku dan dokter. Ibuku menatapku dengan air mata, ia mencoba menenangkanku. Ia mencoba menjelaskan hal ini dengan lemah lembut. Kaki mu harus diamputasi kedua-duanya. Aku hanya dapat terdiam, kulihat Syaiful menangis dari luar kamar. Dari sorot matanya ia mengucapkan maaf. Akan tetapi, akulah yang seharusnya meminta maaf. Seandainya aku tidak lengah. Hal ini tidak akan terjadi. Ibuku keluar dari kamar, mataku mengikuti ibuku dan dari kaca aku melihat Ibuku menunjuk-nunjuk Syaiful dan menamparnya untuk yang kedua kali. Syaiful berlari pulang meninggalkan aku mungkin ia tidak tahan lagi. Aku menangis melihatnya. Maafkan aku Syaiful.

Kini kakiku telah diamputasi, sudah satu bulan ini aku tidak bertemu dengan dengan Syaiful. Teman-temanku yang lain menjenguk ku. Sikap ibuku sangat berbeda, ia menyambut hangat teman smpku kecuali Syaiful. Belum sempat menginjakkan di rumah, ibu sudah mengusir Syaiful. Syaiful sempat meminta izin dan membujuk ibu agar bisa menjengukku. Akan tetapi, ibu tetap tidak mengizinkan Syaiful masuk. Dina bercerita kepadaku dengan serius. Ternyata Syaiful menitipkan surat kepada Dina karena ia sudah menduga akan terjadi hal seperti ini. Surat dari Syaiful aku baca dengan seksama. Isi suratnya penuh dengan kata-kata maaf.

Daerah komplek kami yang begitu tenang kini berubah menjadi ramai, hiruk pikuk, dan panas. “Kebakaran…kebakaran. Teriak warga”. “Bu, cepat keluar ada kebakaran”. Ibu mendorong kursi rodaku. Kami keluar rumah. Api yang sangat besar itu menyala-nyala mengeluarkan asap hitam. Rumahnya sangat aku kenal. Itu adalah runah Syaiful. Kini api sudah merambat ke rumah penduduk yang ada di sekitar. Aku menatap sosok sahabat sejatiku, wajahnya hitam. Ada luka bakar sedikit di lengannya. Syaiful menangis, Ia berusaha menyelamatkan ayah dan ibunya yang sedang tertidur lelap. Akan tetapi, warga melarang karena api sudah semakin besar. Setelah datang mobil kebakaran yang berjumlah sekitar 12 unit. Api dapat dipadamkan kira-kira dua jam lamanya. Kemudian warga masuk dan membawa keluar mayat ibu dan ayah Syaiful. Syaiful menagis rumahnya sudah habis terbakar, ibu dan ayahnya sudah tiada. Ia sangat sedih. Aku ingin menghibur Syaiful menenangkan hatinya tetapi ibu cepat mendorong kursi rodaku kembali kerumah. Aku menangis, bagaimana mingkin seorang anak yang baru berusia 12 tahun harus hidup sendirian di muka bumi ini. Aku mencari berita tentang Syaiful dari Dina. Kini Syaiful tinggal di masjid dekat rumah. Ia bertugas menjadi tukang bersih di masjid dan tukang menjaga sandal jika hari jumat tiba. Syaiful tidak minta digaji, ia sangat senang bisa tinggal di masjid ini dan sekalian menambah pahala. Syaiful menganggap kebakaran ini menjadi peringatan baginya karena ia sangat jarang beribadah. Mungkin dengan adanya musibah ini, hatinya lebih tergerak untuk melakukan ibadah. Sebagai hasil tambahan, Syaiful bekerja menjual koran di pagi hari dan bekerja di rumah makan siang harinya. Waktu malam adalah hal yang sangat istimewa bagi Syaiful karena setelah sholat Isya Syaiful bisa beristirahat di masjid. Syaiful selalu berdoa agar ia bisa bertemu dengan aku. Kami adalah sahabat yang terpisah. Aku merasa kekosongan di dalam hati. Aku membujuk ibuku agar memaafkan Syaiful. Akan tetapi, ibu hanya diam saja. Aku membujuk dan memohon dengan ibu tetapi ibu hanya diam.

Aku hanya bisa memandangi Syaiful dri jendela. Syaiful juga hanya bisa memandangiku dari jauh. Aku mencoba untuk berkomunukasi dengan Syaiful tetapi tidak bisa. Gerak-gerikku selalu diawasi oleh ibu. Jika aku mencoba untuk berkomunikasi, aku takut Syaifullah yang menjadi sasaran amarah ibuku.

Aku mencari akal. Bagaimana caranya agar aku bisa berkomunikasi dengan Syaiful. Bisa berbagi tawa dan duka dengannya. Seperti dulu, saat kami berdua mendendangkan lagu kesayangan kami. Aku menjadi vokalis dadakan dan Syaiful dengan setia mendengarkan laguku yang sumbang dengan kepala digeleng-gelengkan sedikit. Masa yang sangat indah.

Bermalam-malam aku memikirkan cara agar bisa kembali seperti semula. Bersahabat dengan temanku. Tiba-tiba aku mendapatkan ide. Ide yang mudah untuk dilaksanakan. Aku akan menunggu di luar saat Syaiful mengantarkan koran pagi-pagi dengan alasan ingin menghirup udara segar di luar rumah. Mungkin dengan alasan ini ibu akan percaya dan megizinkanku.

Pagi hari saat udara masih dingin, aku keluar rumah dengan kursi roda. Untungnya ibu mengizinkan aku, dengan syarat aku tidak boleh terlalu jauh. Tiba-tiba “Kring…kring” sepeda tua itu datang. Syaiful denga cepat memarkirkan sepedanya dan terdiam menatapku. Begitu juga aku, aku hanya memandangi Syaiful dari dekat dan air mataku mulai meleleh di pipi.

Kemudian tanpa berkata-kata Syaiful pergi. Ia melemparkan koran ke dalam pagar. Tanpa sempat berkata-kata ia pergi dengan sepeda tua warisan ayahnya. Kupandangi badannya sampai hilang di perempatan jalan. Aku sangat sedih dan bertanya dalam hati. “Ada apa ini, mengapa Syaiful menjauh”. Aku berniat untuk menunggunya pagi besok.

Keesokan paginya aku menunggu Syaiful di depan rumah. Tidak lama sepedanya berhenti tepat di depanku. Seperti biasa ia melemparkan koran dan memberikanku kertas kemudian berlalu meninggalkanku. Ia meninggalkan sepucuk surat untukku.

Kepada Rina

Sahabatku yang hampir hilang

Aku adalah orang penakut yang tak bisa menjagamu. Akulah yang membuatmu menjadi seperti ini. Akulah yang membuat mu pindah sekolah dari sekolah yang indah dan banyak teman-teman sebaya yang normal ke sekolah anak cacat. Akulah yang membuatmu tidak bisa bersepeda lagi. Maafkan aku rina.

Syaiful,

Yang bersalah.

Aku menitikkan air mata dan menulis surat balasan untuk Syaiful. Pagi hari setelah Syaiful mengantarkan korannya aku memberinya surat balasan.

Kepada Syaiful,

Sang juara panjat pinang…

Walaupun aku cacat. Aku tidak bisa mengayuh sepeda seprti anak-anak lain. Akan tetapi, aku bahagia memiliki sahabat seperti kau. Bayangkan, aku belajar ketegaran dari dirimu. Tegar terhadap musibah yang kau hadapi. Aku menemukan sesuatu yang beda pada dirimu , sahabat yang tidak bisa digantikan oleh siapapun.

Rina,

Pelanggan koran

Nb: besok bawakan aku bubur ayam ya!

Syaiful membaca surat itu dengan tersenyum. Ia merasa lega. Usai magrib aku dipanggil ibu. Ternyata Ibu mengetahui aku masih berhubungan dengan Syaiful. Ibu meminta agar Syaiful mampir ke rumahku sejenak pagi besok.

Aku memberitahukan Syaiful bahwa ia dipanggil ibu untuk masuk. Aku meyakinkan Syaiful tidak akan terjadi apa-apa. Akhirnya, Syaiful masuk dengan sedikit ragu. Ibu langsung menyuruh Syaiful duduk. Tanpa di duga, ternyata Ibu mengizinkan Syaiful untuk tinggal di rumah karena aku anak tunggal dan ibu sangat bersimpati kepada Syaiful. Aku hanya hidup berdua dengan ibuku. Aku sempat heran mengapa ibu mengangkat Syaiful sebagai anaknya. Kini aku mempunyai seorang kakak yang selalu bersedia mengajak aku jalan-jalan dengan kursi rodaku. Jika aku kesulitan maka Syaifulah yang membantu dan selalu membuatkan aku bubur ayam untuk sarapan di pagi hari karena ia tahu bahwa aku sangat menyukai masakan ini. Kak Ipul begitulah panggilan baruku untuknya. Kini ia kembali bersekolah untuk mencari ilmu dan ia berjanji akan menjadi dokter agar bisa merawatku lebih baik.

RELA

Buat yang cintanya

Dibagi

Terbagi,

dan dibagi-bagi

Sekalipun permen itu paling Kau sukai tetapi ada

Gadis kecil yang merengek-rengek meminta sampai

Ingusnya tertelan,

Apakah Kau tega tak berbagi?

Walaupun cokelat itu sungguh menggiurkan tetapi

Jatuh dan diangkat tentara semut, apakah kau mau mengambilnya kembali?

Jika semuanya hilang dan yang tersisa hanya

Es krim yang meleleh habis ditanganmu,

Apakah rela kau bersihkan dengan baju mu?

Begitu pula hati sekalipun Engkau berucap RELA

Berbagi dengan yang lain

Namun sekalipun engkau tersenyum

Hatimu tak akan serela bibirmu

Pagi yang dingin membuat aku sedikit malas untuk bangun. Akan tetapi, aroma masakan ibu yang mengundangku untuk cepat-cepat melipat selimut. Dengan muka acak-acakan, aku keluar dari kamar. Ibu menyambutku dengan senyum. Senyum bahagia karena telah berhasil membuat masakan yang baru di pelajarinya di kursus bersama tetangga yang dilaksanakan setiap sore. Nasi goreng ikan teri campur pete. Itulah menu special yang ditawarkan oleh Ibu untuk sarapan pagi ini. Aku tak sabar untuk mencicipinya. Ikan teri itu menggeliat minta digoda dan pete meloncat-loncat dari piring memanggilku. Sekarang nasi goreng itu berada di dekat hidungku. Langkah selanjutnya ku ambil sendok dan oh… suapan pertama kurasakan sensasi kombinasi antara ikan teri dan pete yang lezat. Aku makan dengan lahap, seperti tak pernah makan tiga bulan, belum sempat bernafas, sendok nasi itu terus menyempal ke mulutku. Ibu hanya tertawa melihatku. “Baru kali ini bukan kau merasakan masakan seorang koki bintang tujuh”, dengan bangga Ibu memuji dirinya sendiri. Aku terus melahap nasi goreng Ibu dan pura-pura tak mendengar apa yang ia katakan. Sebearnya nasi goreng ibu memang enak bahkan sangat enak tetapi aku tidak mau memuji secara berlebihan. Nanti Ibu jadi Ge-er .“Em, lumayan”, ujarku dengan sok cuek. Padahal di dalam hati, aku ingin sekali nambah satu piring lagi dan mengulang sensasi nasi goreng itu. Akan tetapi, sepertinya Ibu dapat membaca gelagatku. “Ah, Rini, tidak usah bohong, Ibu tahu kau sangat menyukainya kan”, sepertinya Ibu mengetahui kebohonganku. “Iya Bu, nasi gorengnya enak sekali, seperti di restoran”, ujarku sambil mengacungkan kedua jempol. “Bagaimana kalau nasi goreng ini aku namakan nasi goreng Peri (pete dan teri)”, usulku. “Boleh juga”, kemudian Ibu kembali ke dapur dan mengambil susu untukku. Aku sangat bangga mempunyai Ibu seperti ini. Ibu dan aku sangat menyayangi. Aku anak tunggal. Ayahku meninggal sakit kanker hati. Jadi, hanya kami berdua yang menghuni rumah sederhana ini. “Rini, ini susunya”, Ibu membawakan susu segelas besar dan bertuliskan Rini. “Makasih, Bu”. Aku langsung menyeruput susu itu. Enak sekali bukan karena susunya tetapi karena ibulah yang membuat susu ini dengan penuh cinta. “Bu, di dalam lemari itu ada dua buah gelas cantik sekali, warna ungu pula”. Aku menatap dalam-dalam cangkir itu , penuh dengan seni dan kenangan. Sepertinya, cangkir itu di buat dengan penuh cinta dan ditakdikan untuk cinta. Dengan mata berkaca-kaca ibu menceritakan kisah tentang gelas cinta itu. Dulu ketika lagi berpacaran. Ibu dan Ayah selalu pergi ke restoran untuk makan bakso. Kebetulan harga makanan di sana sangat murah. Sesuai dengan kantong pegawai pabrik kecap seperti ayah. Kebetulan jalan menuju ke restoran tersebut melewati toko barang bekas. Setiap melewati jalan itu, mata Ibu tidak bisa terlepas melihat cangkir ungu itu. Ibu sangat menginginkan cangkir itu. Ibu juga sadar, walaupun itu barang bekas tapi harganya pasti mahal. Ternyata ayah mengetahui bahwa ibu menyukai cangkir itu. Walhasil, seusai mendapatkan gaji dari jerih payah satu bulan. Ayah berani menanyakan harga cangkir itu. Ternyata harganya cukup mahal. Uang Ayah kurang. Ibu menyuruh ayah untuk melupakan cangkir itu. Enam bulan kemudian, akhirnya Ibu dan Ayah menikah. Ketika ulang tahun pernikahan pertama kami. Tanpa di duga, ternyata Ayah membelikan Ibu cangkir ungu itu. Betapa bahagianya Ibu. Tidak lama setelah dua tahun pernikahan, Ayah menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya karena penyakit kanker hati yang menggerogotinya. Cerita itupun usai, kutatap lekat-lekat wajah ibu. Mukanya basah oleh air mata. Air mata berkelok-kelok mengikuti alur mukanya yang berkerut dimakan usia. Aku pun memeluk ibu sambil memperhatikan cangkir cantik itu. Cangkir cantik yang penuh sejarah cinta. Cinta dua makhluk miskin harta tapi kaya hati.

Satu minggu ini adalah hari yang sangat menyenangkan karena hari ini libur. Libur sekolah berarti libur tugas, itulah keinginanku. Akan tetapi, itu tidak terjadi padaku. Justru libur ini mengharuskan aku untuk mengerjakan pr yang segunung. Aku diajarkan oleh ibu, ketika kita mendapatkan tugas ataupun amanah terhadap orang lain, maka kita harus mengerjakannya dengan hati yang ikhlas dan jangan dengan hati terpaksa.

Setelah memakai sepatu dan megambil kacamatanya. “Ibu pergi dulu ya, ke sekolah”. Ibuku adalah pegawai tata usaha di sd negeri dekat rumah. “Bereskan rumah ya, Rin”, pesan ibu sambil menutup pintu depan. “Beres, Bos!”. Ujarku. Setelah mengerjakan pr matematika. Aku langsung membersihkan rumah. Dari ruang tamu sampai dapur, aku mengepel lantai seperti mandi. Tubuhku jadi lembab. Setelah menyapu semua ruangan aku pun mengelap kaca dan perabotan yang penuh debu. Satu persatu bingkai foto ayah ku bersihkan dari debu-debu. Aku mengelap kaca lemari dengan kain pel kecil dan tak lupa air pel ku campur dengan wewangian bunga mawar dan aku pun membuka lemari untuk mengelap cangkir kesayangan Ibu beserta pajangan yang lain. Aku bekerja sambil menonton televisi. Tiba-tiba tanpa ku sadari. Prrrannggg, cangkir, itu pecah satu. Aku terdiam, tak dapat bergerak, cangkir ungu itu pecah, berantakan. Aku merasa bersalah dengan Ibu. Aku mencari cara untuk menyatukan pecahan cangkir itu. Aku mengambil lem dan mencoba melekatkannya dengan gemetar. Tapi pecahan cangkir itu terlalu kecil sehingga aku tidak bisa menyatukannya dan pasrah.

Sore hari, ibu pulang membawa makanan untuk makan malam. Aku membukakan pintu dengan ekspresi datar, takut, dan cemas. Aku takut artefak cinta ayah dan ibuku, tak dapat menjadi saksi ketegaran cinta mereka karena dirusak oleh aku yang ceroboh. Aku langsung mengambil makanan dari tangan Ibu. Sepertinya Ibu mengetahui gelagatku yang lain. Ibu mulai mengintrogasiku. “Kenapa kamu diam, tidak biasanya?”, Tanya Ibu menyelidiki. “Rini tidak diam, Bu”. “Ayo, jujur”, Ibu membujuk. “Tapi jangan marah ya?” ujarku dengan sedikit ragu. Dengan ragu, ku ceritakan kemalangan dan kebodohan diriku.

Tadi, setelah Ibu pergi. Aku membersihkan rumah. Tiba-tiba ketika aku mengelap cangkir itu ternyata licin dan pecah. Aku bercerita sambil menampung air mata. Kemudian aku memperhatikan ekspresi wajah Ibu. Ibu diam tetapi tidak marah. Ibu sangat sabar, aku tahu Ibu kecewa. Kulihat Ibu masuk ke kamar, diam, sunyi. Aku yang menangis. Bulir-bulir air mata ku jatuh mengalir sesak masuk ke hidung.

Malam ini panas. Padahal kipas angin, ada pada tombol satu, paling kencang anginnya. Suara lagu dari radio dengan bunyi kresek-kresek mengiringku untuk mencari cara memecahkan masalah agar Ibu tidak sedih lagi. Aku memandang langit-langit rumahku. Menyalahkan diri sendiri atas kesalahan yang telah ku perbuat sendiri tepatnya kecerobohanku. Aku mencari akal, bagaimana cara untuk mengganti cangkir yang telah aku pecahkan. Memang itu cuma barang biasa bagi orang yang tidak memiliki cerita tentang barang yang ia sayangi. Aku memandangi kesekeliling kamarku. Tiba-tiba aku melihat Ayam. Ayam jago besar yang sudah kupelihara sekitar satu tahun di kamarku. Ayam itu bertengger di meja belajarku. Ia kelihatan sehat dan segar bugar dengan warna cokelat. Iya, itu adalah celengan kesayanganku. Sebenarnya uang hasil celengan itu akan aku gunakan untuk membelikan Ibu kaca mata baru saat ia ulang tahun nanti. Aku sangat kasihan karena Ibu masih memakai kacamata lama padahal kaca mata itu tidak cocok lagi dengan mata Ibu yang semakin rabun. Ibu masih bertahan dengan kaca matanya yang tidak pas lagi. Apa boleh buat, demi cangkir kesayangan Ibu yang merupakan artefak cinta antara dua sejoli yang membuat aku terlahir sebagai anak yang paling bahagia di dunia ini.

Akan tetapi, aku sangat sayang dengan celengan ini, aku selalu mengisinya dengan sisa uang sekolahku. Isinya lebih banyak uang receh tetapi kalau sudah satu tahun, mungkin uang itu cukup banyak. Aku bertekad, aku naik ke atas tempat tidur. Aku angkat celengan itu tinggi-tinggi yang sebelumnya sudahku selimuti dengan kain agar suara yang terdengar tidak terlalu mengagetkan. Seketika, ayam jago itu mati, mati karena kuhempaskan dari atas kasur. Tanah liat itu hancur dalam hitungan detik. Bermunculanlah uang receh dan uang seribuan. Aku menyingkirkan uang terlebih dahulu lalu membersihkan bekas pecahan celengan ayam jago dengan seksama. Setelah membersihkan pecahan celengan tersebut, aku mulai menghitung uang. Akhirnya, setelah dihitung-hitung ternyata celengan ayam itu hanya Rp 120.000,00. aku berniat untuk pergi pagi-pagi untuk mencari cangkir ungu atau yang mirip dengan itu di tempat barang bekas tempat ibu membelinya dahulu.

Aku berkeliling mencari tempat itu namun, malangnya nasibku ternyata toko itu sudah tutup. Menurut pedagang lainnya. Pemilik toko lebih memilih pindah berjualan di luar kota. Aku bingung harus bagaimana. Seandainya saja masih ada orang yang berjualan cangkir yang mirip dengan cangkir itu. Aku terus berjalan menuju toko pecah belah. Menendang-nendang kaleng soft drink sambil kesal. Tiba-tiba, ada laki-laki berjaket hitam menyenggolku dari samping. Aku hampir jatuh karena badan laki-laki itu sangat besar. Akhirnya aku sampai di toko pecah belah tersebut. Setelah menanyakan kepada penjual, ternyata ia mempunyai cangkir yang lumayan mirip dengan cangkir yang aku pecahkan tetapi sedikit berbeda kalau cangkir yang aku pecahkan itu jumlahnya sepasang tetapi cangkir yang ini satu lusin. Setelah sepakat untuk membeli aku menuju kasir untuk membayar. Setelah meraba uang di tasku. Ternyata dompetku lenyap. Aku masih tak percaya, aku memeriksa ulang tasku. Memang benar tidak ada. Sepertinya dompet itu terjatuh. Aku berlari ke luar toko tidak melihat kana kiri dan seskali menabrak orang yang sedang berjalan. Menelusuri jalan yang aku lalui tadi. Hasilnya nihil, mungkin dompet itu bukan tercecer tapi aku kembali teringat dengan pria yang bertubuh besar. Apakah mungkin pria itu yang mencopet dompetku. Aku sangat kesal dan air mataku tidak bisa ditahan lagi. Aku menangis sambil berlari. Aku gagal, aku gagal mendapatkan artefak cinta Ibu dan Ayah. Aku tidak punya uang lagi. Celenganku sudah kubongkar, uangku sudah lenyap, dan aku tidak bisa pulang karena tidak ada ongkos. Aku bingung, tiba-tiba ada suara disampingku. “Neng cantik, kenapa menangis?”, ujarnya sambil menghentikan sepeda motornya. Wajah itu tak asing lagi di otakku. Oh, aku ingat itu adalah tukang sayur langganan Ibu. Ia sering berdagang sayur dengan sepeda motornya yang diberi gerobak di belakangnya. Aku pun menceritakan kejadian yang mengenaskan itu. Ternyata aku di antar pulang oleh Pak Arif.

Setelah sampai di rumah, aku mengucapkan terimakasih kepada Pak Arif. Aku pun masuk ke rumah dan berlari ke kamar untuk mencari akal bagaimana cara mencari gelas yang mirip dengan gelas yang sudah aku pecahkan. Gitar, tiba-tiba ide itu yang muncul di otakku. Kemudian aku berencana untuk menjual gitar yang aku beli dengan tabunganku juga. Besok gitar itu harus aku jual. Itulah tekad ku yang harus segera aku laksanakan.

Pagi-pagi aku menjual gitar itu di toko bekas. Setelah mengalami perdebatan. akhirnya gitar itu dihargai dengan Rp 75.000,00. Aku langsung menuju toko pecah belah yang aku datangi kemarin. Ternyata harga gelas itu Rp 80.000,00. tetapi kali ini nasib mujur berpihak padaku, pemilik toko itu memberikannku cangkir itu seharga Rp 75.000,00. aku sangat senang. Walaupun gitar yang aku sayangi sudah melayang.

Setelah sampai di rumah, aku langsung memberikan selusin cangkir itu untuk ibu, ibu sangat terharu setelah aku menceritakan pengalamanku untuk mendapatkan cangkir ini, “Terimakasih sayang, Ibu tidak marah kok, untung saja kamu tidak apa-apa, ibu tidak akan marah karena ibu sayang kamu!”, ujar Ibu sambil menyimpan cangkir itu. aku pun langsung ke kamar untuk beristirahat. Aku baru ingat besok ulang tahunku, aku sendiri hampir lupa.

Pagi-pagi aku sudah bangun, menyambut sang surya. Aku tak mendapatkan Ibuku di dapur. Ternyata Ibu sudah pergi pagi-pagi ke sd karena ada rapat untuk spp. Makanan sudah tersaji. Aku tertegun melihat gitar baru mengkilap di dekat meja telepon. Gitar itu bersender di meja sungguh elegan. Setelah ku baca surat yang menempel pada senar gitar tersebut. Aku terharu karena Ibu membelikan aku gitar baru sebagai hadiah ulang tahunku. “Aku sayang ibu”

About this blog

Pengikut

About Me

Foto saya
Aku di lahirkan di Palembang 18 Juni 1990,,,sekaRang LagI MErintis masa dEpan Aku mencoba berkarya walaupun aku hanya memiliki sedikit pengetahuan...cukup dengan karya hidup kita akan lebih berharga...

Labels