Penari Hujan
Seperti biasa, Ranting menari tanpa sehelai benang di Jembatan Ampera, Ia tanggalkan satu persatu pakaian yang lekat di tubuhnya. Berserah, kata-kata yang selalu ia ucapkan ketika melucuti pakaiannya. Ampera ia anggap sebagai panggung tempat kuasa, ia sebagai penari ahli sang maestro yang menghibur siapa yang hendak dihibur. Malam tepat pukul 00.00 WIB, ketika semua orang sibuk membuat garis kerut dibantal, ketika orang sibuk bermimpi atau menanti suami pulang malam. Maka Ranting, hanya menanti kapan ia lebur, lebur jadi satu dengan bumi. Layaknya upacara pagi hari pengibaran bendera, wajib, mesti, dan harus. Rutinitas ini, menyenangkan baginya dan menyenangkan bagi semua yang menatapnya.
Mulailah ia menari dengan tangan yang ia kepakkan seperti burung. Maknanya kebebasan. Ia menguasai panggung, dingin tak jadi soal, air sungai Musi dengan mesranya melenggak-lenggok di bawah kangkangan Ampera. “Kata nenekku menarilah sampail, badanmu seolah-olah terbang, tidak merasakan apa-apa. Ketika ragamu melebur bersama udara, maka kamu mencapai puncak dimana kau telah menjadi satu dengan bumi.
Ia mulai melenggok, menyilang-nyilangkan kakinya, yang jenjang seperti mengejar sesuatu dengan angkuh tapi indah. Ada sedikit mantra, geraman, lemah namun penuh gairah, ia ucapkan seperti nama, Bumi, Bumi, Bumi,,bummmm,,,,iiiiiiiii,,,,,,,,,,,,,,ia melenggok tambah cepat, kendaraan yang berlalu lalang terkadang berhenti sebentar untuk memastikan bahwa wanita itu gila atau memastikan bahwa ia mantan penari telanjang yang entah mengapa dan karena apa, menjadi gila.
Nenek satu-satunya wanita yang menginspirasinya, menari adalah keindahan. Menari adalah kesenangan. Semua memiliki tarian yang merupakan simbol, menikah kita menari, sedih kita menari, lahir kita menari, bahkan mati pun dirayakan dengan tarian.
“Oh,Bumi, aku ingin melebur, aku ingin jadi satu, bersamamu. Ia memutar dari ujung ke ujung, melenggok kadang menghentak seperti marah. Tubuh kuning langsatnya yang benar-benar indah tapi mistik.
Dua jam, sudah cukup untuk Ranting menari, untuk mencapai tingkat lebur yang belum sempurna. Peluh membasahi tubuhnya yang membuat laki-laki bias mati gelagapan menahan hasrat. Ia kembali mengenakan pakaiannya, satu-persatu, kembali seperti manusia normal dan pikiran yang normal. Ia berjalan entah kemana, tiba-tiba saja hilang dari pandangan mata.
Pagi hari, laki-laki yang gemar mengambil foto, entah mengapa hari ini malas mengambil gambar-gambar seperti biasa. Ia sibuk mengamati foto-foto yang awalnya tak sengaja ia tangkap namun akhirnya menjadi rutinitas, sehingga objek lain yang paling menarik dan unik pun kalah. Ia tak ingin berpaling,objek barunya adalah inti keindahan. Ia sangat puas mendapatkan apa yang ia cari selama ini.temanya bebas dan lepas.
Objek yang tak mau ia bagi-bagi bahkan dijual, cukuplah ia yang menikmatinya sendiri. Keindahan setiap inci yang membuat ia mabuk dan ketagihan, menanti rupanya, lama layaknya menuggu pelangi setelah hujan,benar-benar idah dan lenyap begitu saja. Tidak ada yang bias menggantikkan waktu yang ia tunggu. Ia tak pernah berhenti berfikir xxxxxxxxxxxxxxxxxx BERSAMBUNG XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

2 komentar:
Ditunggu Sambunganya :D
Posting Komentar