Coretan-Coretan Revie

aku disini bermimpi, mencari-cari, dan berusaha menggapai,,,,,,bintang yang lekat di dinding langit....

Penari Hujan

Penari Hujan


Seperti biasa, Ranting menari tanpa sehelai benang di Jembatan Ampera, Ia tanggalkan satu persatu pakaian yang lekat di tubuhnya. Berserah, kata-kata yang selalu ia ucapkan ketika melucuti pakaiannya. Ampera ia anggap sebagai panggung tempat kuasa, ia sebagai penari ahli sang maestro yang menghibur siapa yang hendak dihibur. Malam tepat pukul 00.00 WIB, ketika semua orang sibuk membuat garis kerut dibantal, ketika orang sibuk bermimpi atau menanti suami pulang malam. Maka Ranting, hanya menanti kapan ia lebur, lebur jadi satu dengan bumi. Layaknya upacara pagi hari pengibaran bendera, wajib, mesti, dan harus. Rutinitas ini, menyenangkan baginya dan menyenangkan bagi semua yang menatapnya.
Mulailah ia menari dengan tangan yang ia kepakkan seperti burung. Maknanya kebebasan. Ia menguasai panggung, dingin tak jadi soal, air sungai Musi dengan mesranya melenggak-lenggok di bawah kangkangan Ampera. “Kata nenekku menarilah sampail, badanmu seolah-olah terbang, tidak merasakan apa-apa. Ketika ragamu melebur bersama udara, maka kamu mencapai puncak dimana kau telah menjadi satu dengan bumi.
Ia mulai melenggok, menyilang-nyilangkan kakinya, yang jenjang seperti mengejar sesuatu dengan angkuh tapi indah. Ada sedikit mantra, geraman, lemah namun penuh gairah, ia ucapkan seperti nama, Bumi, Bumi, Bumi,,bummmm,,,,iiiiiiiii,,,,,,,,,,,,,,ia melenggok tambah cepat, kendaraan yang berlalu lalang terkadang berhenti sebentar untuk memastikan bahwa wanita itu gila atau memastikan bahwa ia mantan penari telanjang yang entah mengapa dan karena apa, menjadi gila.
Nenek satu-satunya wanita yang menginspirasinya, menari adalah keindahan. Menari adalah kesenangan. Semua memiliki tarian yang merupakan simbol, menikah kita menari, sedih kita menari, lahir kita menari, bahkan mati pun dirayakan dengan tarian.
“Oh,Bumi, aku ingin melebur, aku ingin jadi satu, bersamamu. Ia memutar dari ujung ke ujung, melenggok kadang menghentak seperti marah. Tubuh kuning langsatnya yang benar-benar indah tapi mistik.
Dua jam, sudah cukup untuk Ranting menari, untuk mencapai tingkat lebur yang belum sempurna. Peluh membasahi tubuhnya yang membuat laki-laki bias mati gelagapan menahan hasrat. Ia kembali mengenakan pakaiannya, satu-persatu, kembali seperti manusia normal dan pikiran yang normal. Ia berjalan entah kemana, tiba-tiba saja hilang dari pandangan mata.
Pagi hari, laki-laki yang gemar mengambil foto, entah mengapa hari ini malas mengambil gambar-gambar seperti biasa. Ia sibuk mengamati foto-foto yang awalnya tak sengaja ia tangkap namun akhirnya menjadi rutinitas, sehingga objek lain yang paling menarik dan unik pun kalah. Ia tak ingin berpaling,objek barunya adalah inti keindahan. Ia sangat puas mendapatkan apa yang ia cari selama ini.temanya bebas dan lepas.
Objek yang tak mau ia bagi-bagi bahkan dijual, cukuplah ia yang menikmatinya sendiri. Keindahan setiap inci yang membuat ia mabuk dan ketagihan, menanti rupanya, lama layaknya menuggu pelangi setelah hujan,benar-benar idah dan lenyap begitu saja. Tidak ada yang bias menggantikkan waktu yang ia tunggu. Ia tak pernah berhenti berfikir xxxxxxxxxxxxxxxxxx BERSAMBUNG XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Pelangi Patah di Krakatau

Salahkah kulitku yang berkerut ini masih menantimu
Pada belahan kain tapis ini, bukti cinta
Aku masih menunggu Pelangi, di sini
Aku tidak gila, hanya buta,
Sampai ajal, aku menunggumu,
Pada bibr pantai ini
Disaksikan Asap Anak Krakatau

Saat lepas fajar, Dalima berdiri di bibir pantai, rambut panjangnya yang hampir semuanya ditutupi oleh uban melayang di hembus angin pagi. Angin itu, angin pagi, sudah pasti tidak ada pelangi namun Dalima masih menunggu. Memandangi anak gunung purba atau yang lebih dikenal dengan Anak Krakatau adalah wajib hukumnya. Gunung itu memiliki kekuatan yang penuh kenangan, harapan serta penantian mungkin sampai Izrail datang menjemputnya. Ketika itu surya mulai tampak menyembul seolah-olah keluar dari dalam laut dan perlahan-lahan menembus awan, sinarnya mulai menerpa wajah Dalima yang sudah berkerut dimakan usia,namun sisa kecantikan masa mudanya masih terlihat dengan hidungnya yang mancung, dua lesung pipinya, serta senyumnya yang begitu ayu tanpa gincu. Sudah lima puluh tahun Dalima tak pernah absen menyetorkan mukanya di bibir pantai ini tepat seusai fajar.
Dalima memang tidak lagi muda, sudah berpuluh-puluh tahun, ia tinggal di pulau ini, Pulau Sebesi namanya, pulau yang dengan luas 2.620 ha dengan panjang pantai 19,55 km. Bila dilihat dari peta, pulau ini berbentuk hampir bundar. Akan tetapi, sayang sekali dalima tidak pernah tahu apa itu peta karena ia tidak berkawan denga peta, buku, apalagi sekolahan. Akan tetapi, yang ia tahu hanya cinta. Krakatau inilah yang membuat ia jatuh cinta serta keberuntungan gunung ini yang membuat masyarakat pulau sebesi ini bisa bertahan hidup. Banyak wisatawan yang berkunjung untuk melihat anak gunung tersohor ini yang pernah meledak dan menimbulkan debu yang dilontarkan ke angkasa menutup sinar matahari dan mendinginkan bumi.
Dalima dipanggil wanita gila yang pintar membuat kain tapis. Tidak ada yang bisa mengalahkan keahliannya membuat kain tapis khas masyarakat lampung. Gubuknya penuh dengan alat-alat pembuat kain tapis mulai dari Sesang, Terikan, cacap, belida, kusuran, apik, guyun, ijan, terupong, sekeli, amben dan tekang. Dari tapis inilah ia menemukan cinta dan pada Ranting ia juga menemukan cinta. Bocah kecil yatim piatu yang berumur 2 bulan ketika ia temukan berada di bawah ranting yang akan dibakar kini telah berusia 7 tahun. Dalima menabur cinta bersama gadis kecil itu, di dalam gubuk itu. Gubuk sederahana dengan 2 kamar, satu ruangan multi fungsi sebagai ruang tamu dan dapur. Satu kamar sengaja dikosongkan dan rajin dibersihkan, kalau saja ada wisatawan yang ingin bermalam di rumah ini. Mereka mengukir cerita diantara tenunan kain tapis yang berada di tengah ruangan dapur atau bisa juga disebut ruang tamu. “Ranting, mau kemana?” ujar Dalima sambil memasak nasi dari kayu bakar. “Mau kesana nek?” sambil menunjuk pasir putih yang berkilau diterpa matahari siang hari.
Ranting berlari lincah, telapak kaki kecilnya kadang-kadang terbenam di pasir, membuat jejak-jejak cantik di pantai dan dalam hitungan detik terhapus lagi oleh ombak,namun hanya ranting yang menganggap Dalima waras. Sebagian besar orang pulau ini menganggap Dalima sudah gila karena setiap usai fajar, kerjaannya hanya menatap Anak Krakatau, sambil menggenggam sepotong kain tapis yang sudah lusuh dengan uraian air mata, tanpa bicara apa-apa, matanya kosong menatap gunung itu, seolah-olah ia telah disihir dan dihisap untuk setia pada Anak Krakatau. Untuk mengisi kekosongannya menanti fajar esok, Dalima menenun kain tapis dengan motif dan warna yang benar-benar cantik. Sudah cukup banyak kain tapis yang dihasilkan oleh Dalima yang nantinya akan dibeli oleh wisatawan sebagai cindera mata dari Lampung Selatan tepatnya dari Pulau Sebesi ini. Selain itu, penghasilan tambahan yang ia dapatkan ialah dengan menyewakan satu bilik kosongnya bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan pulau sebesi dan anak krakatau, itu pun jarang. Jarang sekali.
Bulan ini, bulan berkah, bulan liburan anak sekolahan, biasanya Pulau Sebesi banyak kedatangan wisatawan, mereka datang dengan banyak alasan, untuk snorkeling, berenang, menenangkan diri dari kebisingan kota, dan yang paling utama adalah menikmati keindahan Anak Gunung Krakatau yang siap memuntahkan laharnya kapan saja. Bulan ini Sebesi akan ramai, “Ah, aku jadi teringat 20 tahun lalu tepat bulan pada bulan ini, seperti inilah, aku mulai jatuh cinta”


bersambung ***

About this blog

Pengikut

About Me

Foto saya
Aku di lahirkan di Palembang 18 Juni 1990,,,sekaRang LagI MErintis masa dEpan Aku mencoba berkarya walaupun aku hanya memiliki sedikit pengetahuan...cukup dengan karya hidup kita akan lebih berharga...

Labels